Tampilkan postingan dengan label Contoh makalah Sosiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Contoh makalah Sosiologi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Oktober 2011

SWOT

MAKALAH 

PERBAIKAN DAN PENGEMBANGAN JARINGAN JALAN WILAYAH SUKARAME BANDAR LAMPUNG  BERBASIS PENATAAN RUANG 1 DENGAN PENDEKATAN SWOT
( Strenght, Weakness, Opurtunity, Threat,)




Oleh

ERINE NURMAULIDYA
0716011006




Logo Unila.jpg




FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPNG
2009

KATA PENGANTAR

                Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya saya masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa saya ucapkan kepada dosen pembimbing dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga sengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman.

Keritik dan saran demi perbaikan makalah ini sangat di harapkan dan akan di terima dengankelapangan dada. Dan akhirnya semoga hasil penelitian yang telah dilakukan kiranya dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu Pengetahuan.

Bandar Lampung, 22 Desember 2009
Penulis






BAB I
PENDAHULUAN


A.                                        Latar Belakang Masalah

Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, diperlukan kebijakan pembangunan nasional yang tepat. Ketepatan ini diukur dari pengembangan terhadap kompatibilitas dan optimalisasi potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya fisik (buatan). Kebijakan pembangunan yang tidak bertumpu pada ketiga potensi sumber daya tersebut akan sulit mencapai pembangunan yang berkelanjutan. Ini sudah kita alami dengan terjadinya banjir di jalur-jalur utama ekonomi yang disebabkan oleh pembangunan yang kurang memperhatikan kapasitas sumber daya alam sehingga fungsi sistem sungai dan drainase tidak memadai.

 Ini juga telah kita alami dengan terjadinya bottleneck diberbagai jaringan transportasi yang disebabkan oleh pembangunan yang tidak memperhatikan tata guna lahan sehingga kapasitas sumber daya fisik (buatan) tidak lagi mampu menampung perjalanan barang dan manusia yang dihasilkan oleh tata guna lahan. Tidak efektifnya pembangunan juga dapat dialami apabila aspek sumber daya manusia sebagai bagian aspek sosial tidak diperhatikan, dimana nilai-nilai tradisi, kemampuan teknologi dan potensi sumber daya manusia harus selaras dengan pembangunan. Oleh karena itu, untuk mencapai pembangunan berkelanjutan yang bertumpu pada ketiga sumber daya tersebut, digunakan penataan ruang sebagai payung kebijakan pembangunan dan pengendalian dalam implementasinya. Sistem perencanaan pembangunan Nasional dan perencanaan tata ruang sama-sama menekankan suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat melalui urutan pilihan (prioritas) secara berhirarki dengan memperhitungkan sumberdaya yang tersedia. Namun, perencanaan tata ruang memiliki fokus kepada aspek fisik spasial yang mencakup perencanaan struktur ruang dan pola pemanfaatan ruang. Proses perencanaan tata ruang dapat dijelaskan dengan pendekatan sistem yang melibatkan input, proses dan output.

Input yang digunakan adalah keadaan fisik seperti kondisi alam dan geografis, sosial budaya seperti demografi sebaran penduduk, ekonomi seperti lokasi pusat kegiatan perdagangan yang ada maupun yang potensial dan aspek strategis nasional lainnya. Keseluruhan input ini diproses dengan menganalisis input tersebut secara integral baik kondisi saat ini maupun kedepan untuk masing-masing hirarki tata ruang Nasional, Propinsi maupun Kabupaten/Kota untuk menghasilkan output berupa Rencana Tata Ruang. Rencana Tata Ruang pada dasarnya merupakan bentuk intervensi yang dilakukan agar terwujud alokasi ruang yang nyaman, produktif dan berkelanjutan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya dan menciptakan keseimbangan tingkat perkembangan kota. Maka dengan berbasis penataan ruang, kebijakan pembangunan akan mewujudkan tercapainya pembangunan berkelanjutan yang memadukan pilar ekonomi, sosial budaya dan lingkungan.

Sistem perencanaan ruang wilayah secara substansial diselenggarakan secara berhirarkis yakni dalam bentuk RTRW Kabupaten/Kota yang selanjutnya masing-masing dijabarkan operasionalisasinya dalam rencana yang sifatnya lebih rinci. RTRW Kabupaten dan Kota merupakan perencanaan mikro operasional jangka menengah (5-10 tahun) dengan skala ketelitian 1 : 20.000 hingga 100.000, yang kemudian diikuti dengan rencana-rencana rinci yang bersifat mikro-operasional jangka pendek dengan skala ketelitian dibawah 1 : 5.000

B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.    Apa sajakah yang menjadi program Pengembangan Jaringan Jalan kota Bandar Lampung.
2.     Bagaimanakah proses Pengembangan Jaringan Jalan kota Bandar Lampung?
3.    Apa sajakah faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi keberhasilan pelaksaan Pengembangan Jaringan Jalan kota Bandar Lampung?

C.  Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian  ini adalah : sebagai Rencana wilayah kota mengenai pembangunan dan perbaikan Jalan kota Bandar lampung mencakup wilayah Jl.Latjan Rya cudu dan pengembangan nya  kea rah  lampung selatan  dan  metro.

 D.  Kegunaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan tujuan penelitian yang telah dikemukakan di atas maka penelitian ini diharapkan dapat:
1.      Secara  hasil penelitian ini dapat memberikan informasi Pengembangan Jaringan Jalan kota Bandar Lampung.
2.      Secara praktis hasil peneelitian ini diharapkan dapat memberikan referensi tambahan bagi para pengambil kebijakan dalam Pengembangan Jaringan Jalan kota Bandar Lampung.









BAB II
PEMBAHASAN


Kerangka Pengembangan Strategis
Dalam konteks penataan ruang sebagai payung kebijakan sektoral, pengembangan kegiatan sektoral seperti kebijakan sektor jalan selain dimaksudkan untuk mencapai tujuan sektoral juga harus menunjang pencapaian tujuan pengembangan kota yang dicapai melalui integrasi dan keterpaduan antar-sektor dan lintas-wilayah sebagaimana tertuang dalam penataan ruang kota.

Untuk tingkat kota, Rencana Tata Ruang  kota yaitu sebagai penjabaran dari
Rencana Tata Ruang Wilayah dirumuskan kedalam kebijakan-kebijakan
Pengembangan Kawasan Tertentu Pengembangan Sistem Perkotaan,Rencana ini
selanjutnya di susun menjadi Indikasi Program Strategis , sebagai acuan penyusunan Rencana Induk sector wilayah Sukarame Jalur dua Jalan Latjan Ryacudu Bandar lampunng.

SISTEM PEMANFAATAN TATA RUANG KOTA DAN PENGENDALIANNYA
Pembangunan jalan yang berbasis penataan ruang dalam operasionalisasinya merupakan
pembangunan sektor jalan yang mengacu kepada indikasi program strategis penataan ruang. Tidak dapat dipungkiri bahwa jalan sebagai jaringan transportasi yang paling dominan digunakan oleh penduduk untuk beraktivitas memegang peranan penting dalam pembangunan wilayah. Oleh karena itu, pembangunan jalan harus kompatibel dengan potensi sumberdaya dimana penentuan jaringan jalan dan prioritas pengembangan akan menjadi penentu efektivitas pembangunan prasarana jalan dari segi dampak terhadap pembangunan ekonomi dan sosial. Untuk itu, pembangunan jalan berbasis penataan ruang memerlukan rencana tata ruang yang mempertimbangkan kondisi wilayah dari segi potensi ketiga sumberdaya dan keadaan lingkungan strategis. Selanjutnya, dalam konteks pembangunan jalan berbasis penataan ruang kota Bandar lampung khususnya di Sukarame, akan dibahas kondisi wilayah dan keadaan lingkungan strategis yang menjadi pertimbangan dalam penyusunan rencana tata ruang dan jaringan jalan di wilayah Jalan Latjan Rya cudu. Adapun diantara kondisi Jalan Latjen Rya cudu Sukarame  dan lingkungan strategisnya yang menjadi pertimbangan dalam penataan ruang dan perbaikan  jalan adalah :

  1. pengembangan lahan pertanian dan perkebunan serta kebutuhan infrastruktur pendukungnya berupa jaringan transportasi dan kelancaran transportasi.
  2. Penghubung Jalan Alternatif Lintas timur, antara Bandar lampung, Metro,lampung timur.
  3. Transportasi jalan raya yang pada saat ini sangat intensif digunakan, tidak dapat efektif lagi mengingat kapasitasnya terutama struktur jalan tidak bisa lagi mendukung jumlah barang dan orang yang diangkut terutama beban muatan antara lain, tercermin dari kerusakan berat jalan.




kota mendorong pembangunan
Kota-kota di lintas tengah Sumatera berkembang dengan kurang didukung oleh potensi
hinterlan. Sebelum adanya lintas Timur Sumatera, kota-kota ini berkembang dengan pesat terutama sebagai jalur distribusi dan koleksi barang-barang perdagangan antar wilayah terutama dari Kota Bandar lampung. Kesepakatan Gubernur Lampung Kesadaran telah muncul di antara kecamatan di wilayah Bandar lampung.

Didasarkan atas kebutuhan untuk integrasi, sinkronisasi, dan keterkaitan antar kota dan kabupaten Daerah Gubernur Lampung telah sepakat untuk membentuk forum Rapat Koordinas telah ditandatangani kesepakatan antar Gubernur dan kecamatan yang diantaranya berisi usulan mengenai perbaikan sistem transportasi
Sumatera yang menyangkut antara lain pengembangan sistem jaringan transportasi antar wilayah dan Sistem Informasi.

Rencana Tata Ruang Kota Bandar Lampung
Rencana Ruang Wilayah kota pada dasarnya disusun dalam rangka mewujudkan keterpaduan program pembangunan prasarana dan sarana, serta pengembangan sektor-sektor lainnya sebagai bagian dari Sistem Nasional. Dengan adanya rencana tata ruang wilayah Pulau diharapkan tercipta tinjauan yang lebih luas dari masing-masing propinsi dalam mengembangkan wilayahnya sehingga problem pembangunan yang bersifat lintas sektor dan lintas wilayah dapat dihindari sehingga pada akhirnya pertumbuhan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat dan perbaikan  jalan dapat terus ditingkatkan. Fungsi RTR kota Bandar Lampung adalah memberikan dasar pencapaian keterpaduan, keserasian dan keterkaitan spasial antar kota dan antar sektor di dalam suatu kesatuan  dalam rangka optimasi pemanfaatan ruang serta memberikan acuan penyelesaian konflik pemanfaatan ruang lintas sektor dan lintas kota.

Muatan rencana tata ruang pulau sekurang-kurangnya mencakup 4 aspek yaitu visi dan misi pengembangan pembangunan kota, pola pemanfaatan ruang dan struktur tata ruang kota, strategi implementasi atau pedoman pengendalian, serta program strategis jangka menengah. Pola pemanfaatan ruang mencakup struktur tata ruang meliputi sistem kota-kota, sistem jaringan transportasi (darat, laut dan udara), sistem jaringan prasarana lainnya (telekomunikasi, listrik dan energi) serta prasarana sumberdaya air lintas kota.
Secara lebih detail, ke 4 (empat) komponen diatas dielaborasikan ke dalam strategi pengelolaan dan pengembangan wilayah Kota sebagai berikut :

  1. (termasuk kawasan strategis seperti Kawasan Andalan
  2. Sistem pusat-pusat pelayanan (permukiman perkotaan dan perdesaan).
  3. Sistem prasarana wilayah

Rencana Pengembangan Kawasan Andalan
Upaya untuk meningkatkan perkembangan kawasan berdasarkan potensi dan perannya
dalam suatu wilayah, maka dalam Rencana Tata Ruang Pulau Sumatera dikembangkan kawasan- kawasan andalan yang di dalamnya berisikan rencana pengembangan kawasan-kawasan budidaya berdasarkan komoditas unggulan dan kawasan lindung yang direncanakan sebagai berikut:

  1. Pengembangan kawasan andalan yang mendukung langsung koridor pengembangan ekonomi
  2. meliputi Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu  Kawasan Andalan Bandar Lampung.
  3. Pengembangan sistem pusat permukiman untuk mendukung keseimbangan pembangunan  kota.
  4. pengembangan sistem kota maupun pengembangan infrastruktur yang merupakan langkah operasional mengimplementasikan arahan pola pemanfaatan ruang dan struktur ruang wilayah. Untuk mendukung pengembangan kawasan andalan dan kota-kota diperlukan ketersediaan infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk di kawasan dan kota. Rumusan ke dalam strategi spasial pengembangan sistem jaringan transportasi dengan esensi.
  5. Pengembangan transportasi untuk mendukung pengembangan sentra produksi perkebunan, serta sentra produksi sumberdaya alam lainnya






IV. PENUTUP

Strategi pengembangan wilayah kota ini tidak akan dapat efektif dan efisien bila tidak diselenggarakan secara terpadu oleh seluruh sektor dan seluruh daerah sebagai bagian komitmen pengembangan wilayah kota. Kerangka keterpaduan pengembangan wilayah tersebut dapat diselenggarakan dengan memanfaatkan instrumen penataan ruang, baik pada tingkat, Kabupaten maupun Kota.

Dalam upaya pengembangan jaringan jalan di Jl. Latjan Ryacudu maka pendekatan
penataan ruang merupakan input yang penting untuk mendukung upaya pencapaian tujuan pengembangan wilayah,dan mengurangi kesenjangan Pengembangan jaringan jalan didaerah perbatasan juga penting untuk menjaga teritorial.

Fungsi infrastruktur terutama prasarana jalan adalah sebagai prasarana distribusi lalu lintas barang dan manusia secara langsung berpengaruh terhadap meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan investasi, berkembangannya kehidupan sosial – budaya maupun lingkungan. Disisi lain, jalan juga membentuk struktur ruang wilayah maupun perkotaan sehingga keberadaannya sangat menentukan arah berkembangnya wilayah maupun perkotaan mendatang. Salah satu wujud keterpaduan antar sektor untuk mendukung pembangunan ekonomi yang lebih merata dan adil adalah keterpaduan pembangunan jaringan jalan, terutama:


Pemantapan kehandalan prasarana jalan untuk mendukung kawasan andalan, termasuk
sentra-sentra produksi di wilayah dengan keterpaduan sistim jaringan jalan terhadap tata ruang, pemantapan kinerja pelayanan prasarana jalan terbangun melalui pemeliharaan, rehabilitasi serta pemantapan teknologi terapan, penyelesaian pembangunan ruas jalan untuk memfungsikan sistem jaringan. Pengembangan prasarana dan sarana permukiman, khususnya untuk perumahan melalui:

(a)        peningkatan prasarana dan sarana perkotaan untuk mewujudkan fungsi kota sebagai Pusat Kegiatan Nasional, Wilayah dan Lokal;
(b)        pengembangan fungsi pelayanan
(c)        pengembangan desa pusat pertumbuhan dan prasarana dan sarana antara desa-kota untuk mendukung pengembangan agribisnis dan agropolitan
(d)       mempertahankan tingkat pelayanan dan kualitas jalan kota
terutama bagi kota.










DAFTAR PUSTAKA

·         www.googel.com/ perencanaan
·         Bintarto. 1998. Geografi Penduduk dan Demografi. Fakultas Geografi UGM. Yogyakarta.

·         Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Rajawali Press. Jakarta. 517 hlm.

Sosiologi Industri Makalah


DAMPAK INDUSTRI TERHADAP PERGESERAN NILAI KERUKUNAN DALAM
MASYARAKAT DESA




OLEH

ERINE NURMAULIDYA


















FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
SOSIOLOGI
2010

BAB I
PENDAHULUAN




A.    Latar Belakang

Indonesia terutama Pulau jawa, Sumatera, terutama Lampung telah mengalami perubahaan sebagai daerah agraris. Tetapi saat ini stereotipe tersebut telah banyak mengalami perubahan. Perubahan tersebut dapat dilihat diantaranya dengan menurunnya hasil di bidang pertanian. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: semakin menyempitnya lahan pertanian yang disebabkan oleh adanya pengalihan pemberdayaan lahan pada bidang non pertanian yaitu pembangunan gedung-gedung bertingkat maupun untuk usaha lain seperti industri, baik industri berskala kecil sampai industri dengan skala besar. Pengaruh yang lain seperti berkurangnya minat para pemuda khususnya sebagai generasi penerus di bidang pertanian. Pada umumnya golongan muda di pedesaan sudah tidak begitu tertarik untuk bekerja di sektor pertanian. Para pemuda di pedesaan umumnya mempunyai berbagai alasan tersendiri seperti: bidang pekerjaannya relatif berat, efektifitas kerja tergantung musim, penghasilan tidak menentu, pendapatan relatif rendah dan kurang pasti (Fatimah, 2005:2). Sehingga dalam pikiran para pemuda muncul anggapan bahwa kalau tetap di bidang pertanian, maka akan selalu ketinggalan zaman, karena pekerjaan di bidang pertaniaan diidentikkan dengan masyarakat tradisional yang berpikiran belum maju.

Dari beberapa pengaruh tersebut maka muncul pemikiran/ide untuk menciptakan usaha-usaha yang bergerak di bidang non pertanian seperti industri-industri kecil/home industri sampai dengan penciptaan industri- industri berskala yang besar. Negara Indonesia sedang dalam proses menuju era industrialisasi, suatu era yang dipandang sangat penting dalam sejarah kebudayaan bangsa karena pada era inilah diharapkan Indonesia dapat mengejar ketertinggalannya dari negara lain sehingga dapat hidup sederajat dengan
negara-negara maju yang lain. Era industri dipandang sebagai era strategis untuk memacu bangsa dalam mencapai cita-cita kemerdekaan. Namun tetap ada kesadaran bahwa jalan menuju era itu tidaklah mulus. Sejumlah pakar telah menunjukkan bahwa terdapat pelbagai hal yang patut diperhatikan dalam menyiapkan diri dalam menyambut era industri itu, baik menyangkut kualitas penduduk, pendidikan, kebudayaan dan sebagainya. Hal-hal tersebut sangat berpengaruh dalam upaya mencapai keberhasilan bangsa dalam melangkahkan kaki menuju era tersebut. Pengembangan industri yang di topang dengan penerapan teknologi maju, bukan hanya menghasilkan barang-barang kebutuhan hidup secara massal dan beranekaragam, melainkan juga telah merangsang perkembangan masyarakat agraris ke arah masyarakat industri. Sebagian anggota masyarakat mulai mengambil alih nilai-nilai budaya yang terkait dengan teknologi maju yang mereka gunakan. Sementara itu sebagian besar anggota masyarakat Indonesia masih
berpegang teguh pada nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial agraris yang lebih mengutamakan keselarasan hidup.

Perubahan suatu lingkungan dapat pula mengakibatkan terjadinya perubahan kebudayaan dan perubahan kebudayaan dapat pula terjadi karena mekanisme lain seperti munculnya penemuan baru/invention, difusi dan akulturasi.  Sekarang perubahan-perubahan memang sedang terjadi dalam skala dan kecepatan yang lebih, sementara antara perubahan struktural dan perubahan kultural tidak sejalan, sehingga terjadi anomie(kegalauan) pada
perangkat nilai. Anomie terjadi karena kesenjangan antara industrialisasi, teknologisasi dan urbanisasi di satu pihak dan konservatisme budaya tradisional di lain pihak. Industrialisasi telah melahirkan budaya massa yang mengarah kesemangat kolektif dalam tata nilai, teknologisasi telah menuntut penerapan metode teknik dalam segala bidang, dan urbanisasi telah menyebabkan runtuhnya nilai-nilai komunal sebuah masyarakat tradisional.  Masyarakat transisi tradisional di gambarkan sebagai masyarakat yang sedang mengalami perubahan dari masyarakat agraris yang bercorak komunal- tradisional ke masyarakat industri yang bercorak individual-modern. Perubahan yang ada berupa struktur hubungan masyarakat yang belum tuntas ke corak yang lebih rasional dan komersial sebagai akibat dari proses pembangunan yang dilakukan (Maryadi, 2000:53).
Salah satu masyarakat yang sedang mengalami masa transisi adalah masyarakat Desa Srinahan Kec. Kesesi Kab. Pekalongan. Masyarakat desa  ini pada mulanya adalah masyarakat agraris yang bersifat tradisional. Hal ini ditandai dengan sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Mereka menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian dengan menggarap sawah yang ada di sekitar desa. Masyarakat pada masa itu sangat menjunjung tinggi prinsip gotong royong. Hal ini bisa dilihat selama proses penanaman padi, mereka dibantu oleh para tetangga. Masyarakat pada waktu itu menggunakan sistem “liuran” (saling membantu dalam menggarap sawah orang lain).

Seiring perkembangan jaman dewasa ini dan masuknya industrialisasi ke negara Indonesia, Kehidupan masyarakat menjadi berubah dari agraris ke masyarakat industri. Demikian halnya pada masyarakat Desa Srinahan. Kehidupan masyarakatnya berubah dari agraris menjadi masyarakat industri. Industri yang berkembang di desa ini adalah in konveksi. Banyak masyarakat yang membuka konveksi ini di rumah-rumah mereka. Industri konveksi ini didirikan sejak tahun 1996. Industri konveksi di daerah ini mengolah bahan kain menjadi celana. Kemudian hasil industri ini biasanya di pasarkan ke kota-kota besar seperti halnya Jakarta. Masuknya industri ke desa ini mengakibatkan berubahnya pola perilaku masyarakat. Masyarakat cenderung berperilaku seperti masyarakat pada negara-negara maju khususnya dalam hal konsumeritas. Setelah masuknya industri konveksi ke desa ini, orang-orang mulai mengurangi aktivitasnya di sawah. Pekerjaan di sawah sudah banyak digantikan oleh orang lain dengan menggunakan sistem upah.

B.      Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang dikemukakan diatas, dapat diajukan
beberapa permasalahan yang akan diupayakan jawabannya dalam penelitian
ini. Adapun permasalahan tersebut antara lain adalah :

1. Bagaimana kehidupan masyarakat Desa sebelum dan sesudah adanya industri?
2. Apa saja faktor-faktor penyebab pergeseran nilai budaya  di Desa?


C.        Tujuan Penelitian


Dari latar belakang dan permasalahan yang diajukan, maka penelitian ini bertujuan :
1. Untuk mengetahui bagaimana kehidupan masyarakat Desa Srinahan sebelum dan sesudah adanya industri konveksi.
2. Untuk mengetahui apa saja faktor-faktor penyebab pergeseran nilai budaya Jawa dalam masyarakat Desa Srinahan.














BAB II
PEMBAHASAN

Masyarakat Indonesia sedang memasuki era industrialisasi. Artinya, kehidupan masyarakat yang semula lebih banyak bertumpu pada kegiatan pertanian tradisional akan segera beralih pada kegiatan industri. Kalaupun nanti masyarakat tetap saja melakukan aktivitas ekonomi sebagai petani, tetapi orientasi kegiatan mereka telah beralih, tidak lagi sekedar subsisten saja tetapi sudah melangkah pada orientasi kepentingan pasar. Seiring
pun akan turut berubah. Jika semula porsi terbesar kehidupan masyarakat lebih banyak bertumpu pada kegiatan pertanian, pada masyarakat industrial akan lebih banyak terlibat dalam aktivitas ekonomi pasar yang terbawa langsung oleh semakin maraknya aktivitas industri.  Sebelum dimulainya industri di desa ini, sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian.

Segala pekerjaan pertanian ini dikerjakan sendiri oleh petani yang dibantu oleh kelurga dan tetangga. Sistem pengolahan pertanian yang dilakukan pada waktu itu adalah liuran yaitu para petani bergantian saling membantu mengerjakan sawah milik petani lain. Biasanya, dalam liuran ini orang tidak mendapatkan upah, hanya saja mereka diberi nasi dan lauk pauk (disebut golong). Pada saat musim panen tiba, petani yang akan memanen padinya menyuruh para tetangga untuk ikut memanen. Upah yang diberikan berupa 1/5 bagian padi yang diperoleh (disebut bawon). Sebelum padi ini dipanen, petani melakukan syukuran berupa slametan, demikian pula bila ada masyarakat yang baru membeli sepeda motor dan lain-lain, mereka juga akan melakukan hal yang sama. Masyarakat melakukannya sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.

Setelah masuknya industri ke desa , orang-orang mulai mengurangi aktivitasnya di sawah. Apabila dahulu orang-orang menggunakan sistem liuran dalam menggarap sawahnya, sekarang diganti dengan menggunakan sistem upah/bayaran. Bagi masyarakat yang memiliki industri konveksi cukup besar dan masih memiliki sawah, biasanya sawahnya diberikan pada orang lain untuk diolah yang kemudian hasilnya  mengenal adanya pembatasan jam kerja, sedangkan dalam industri konveksi ini sudah mulai ada pengaturan jam kerja yang ketat dan telah mengenal harti libur dalam bekerja.

Masyarakat transisi tradisional digambarkan sebagai masyarakat yang sedang mengalami perubahan dari masyarakat agraris yang bercorak komunal tradisional yang penuh dengan nuansa spiritualistik ke masyarakat industri yang bercorak individual modern yang materialistik. Kebudayaan selalu mengalami perubahan dari watu ke waktu. Lambat atau cepatnya perubahan itu tergantung dari dinamika masyarakat itu sendiri. Kebudayaan selalu berubah menyesuaikan diri dengan munculnya gagasan baru pada masyarakat pendukung kebudayaan itu. Munculnya perubahan kebudayaan dapat terjadi akibat pengaruh faktor-faktor internal yang muncul dari dinamika yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat pendukung kebudayaan itu sendiri, atau akibat pengaruh yang berasal dari luar masyarakat (Sairin, 2002:7).

Berkat kemajuan teknologi informasi, masyarakat semakin lebih terbuka dengan dunia luar. Segala bentuk kehidupan dari luar dengan mudah dapat disaksikan dan diketahui oleh masyarakat. Arah perkembangan kehidupan yang  demikian itu dengan sendirinya juga turut mengubah sistem nilai budaya masyarakat. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap perubahan kebudayaan di daerah penelitian adalah masuknya industri konveksi ke dalam masyarakat. Sebelum adanya industri, masyarakat di desa ini adalah masyarakat agraris. Setelah masuknya industri ini mengubah masyarakat menjadi masyarakat industrial. Dengan berubahnya struktur masyarakat yang semula agraris menjadi masyarakat industrial, merubah pula kebudayaan yang dihasilkan. Walaupun tidak semua semua masyarakat beralih ke sektoe industri, namun sedikit banyak kebudayaan yang dihasilkan sedikit banyak telah mengalami pergeseran. Di dalam kehidupan ini memang tidak ada sesuatu yang tidak mengalami perubahan. Salah satu yang juga berubah meskipun lambat adalah budaya. Perubahan budaya tentunya tidak sekedar menyangkut budaya material saja, akan tetapi juga perubahan pada sistem kognitif, sistem tindakan dan simbol- simbolnya.


Masuknya industri ke desa ini mengakibatkan berubahnya pola perilaku masyarakat. Masyarakat cenderung berperilaku seperti masyarakat pada negara- negara maju khusus dalam hal konsumeritas. Tetapi dalam perkembangannya, pola perilaku masyarakat tidak 100% mengacu pada negara-negara maju atau modern. Pola perilaku masyarakat di daerah penelitian ini masih dibayangi oleh nilai-nilai dan tatanan kehidupan lama. Hal ini dapat dilihat bahwa dalam kehidupannya, masyarakat di desa ini masih menjalankan ritual slametan untuk peristiwa-peristiwa tertentu. Hal ini disebabkan orang jawa mempunyai ritual untuk mempertahankan, melanjutkan atau memperbaiki tatanan kehidupan yaitu dengan mengadakan slametan. Tujuan slametan ini menurut Koentjaraningrat ( Mulder, 1985:28) adalah untuk mencapai keadaan slamet yaitu suatu keadaan dimana peristiwa-peristiwa akan bergerak mengikuti jalan yang telah ditetapkan dengan lancar dan tidak akan terjadi kemalangan-kemalangan kepada sembarang orang.



















PENUTUP


  1. Simpulan

Berdasarkan uraian dari hasil penelitian, maka dapat ditarik beberapa simpulan yaitu sebagai berikut :

1.      Pada mulanya masyarakat Desa Srinahan sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Hal ini disebabkan lokasi Desa Srinahan mulai memasuki daerah perbukitan sehingga mempunyai tanah pertanian yang subur. Seiring perkembangan jaman dengan meningkatnya kebutuhan hidup, bidang pertanian ini dirasa tidak mampu mencukupi seluru kebutuhan hidup masyarakat. Disamping itu, para pemuda tidak tertarik lagi bekerja dibidang pertanian sehingga masyarakat Desa Srinahan ini banyak yang melakukan diversifikasi dibidang pekerjaan dengan membuka usaha konveksi di rumah-rumah mereka.

2.      Masuknya industri konveksi ke Desa Srinahan membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat. Sebelum adanya industri konveksi di Desa Srinahan, masyarakat sangat menjunjung tinggi hubungan kekerabatan dan juga kerukunan diantara sesama. Namun setelah masuknya industri konveksi ke desa ini, hubungan kekerabatan pada warga masyarakat mulai merenggangdemikian juga dengan tradisi tolong menolong yang biasa dilakukan diantara warga. Sekarang kegiatan tolong menolong ini dilakukan pada warga yang berada di satu komunitas yang sama. Kelompok sosial ini berubah dari Gemeinschaft menjadi Gesselschaft. Jadi sistem nilai budaya yang bergeser pada masyarakat Desa Srinahan ini adalah nilai budaya tentang tolong menolong yang merupakan nilai budaya mengenai hubungan manusia dengan sesama.
















DAFTAR PUSTAKA



  • Ananta, Aris. 1986. Masalah Penyerapan Tenaga Kerja, Prospek dan Permasalahan Ekonomi Indonesia. Jakarta : Sinar Harapan
  • Alfian. 1986. Transformasi Sosial Budaya Dalam Pembangunan Nasional. Jakarta : UI Press
  • A.B. Mountjoy. 1997. Industrialisasi dan Negara-negara Dunia Ketiga. Jakarta: Bina Aksara
  • Bintarto, R. 1983. Interaksi Desa Kota dan Permasalahannya. Jakarta : Ghalia

Dinamika Kelompok


Zaman dinamika kelompok Erich Fromm mengawali kegiatan penyelidikannya yang disusun dalam buku Escape From Freedom untuk menunjukkan perlunya individu bekerja sama dengan individu lain, hingga timbul solidaritas dalam kehidupannya. Hal ini disebabkan karena terdorong oleh adanya keinginan individu untuk memperoleh kepastian dalam kehidupan ketika hasrat kepastian ini hanya diperoleh apabila masing-masing individu memiliki rasa solidaritas. Moreno mengemukakan bahwa perlunya kelompok-kelompok kecil seperti keluarga, regu kerja, regu belajar, ketika di dalam kelompok itu terdapat suasana saling menolong, hingga kohesi menjadi kuat, dan kelompok yang makin kuat kohesinya, makin kuat  moralnya. Kurt Lewin menyimpulkan bahwa tingkah laku individu sangat dipengaruhi oleh kelompok yang menjadi anggotanya. Jadi jelaslah bahwa kelompok itu memang benar-benar mempunyai pengaruh terhadap kehidupan individu.


Suatu kelompok dibicarakan atau tidak dibicarakan akan tetap dinamis. Kalaulah itu diartikan sebagai gerak maka kelompok yang tidak ada kegiatannya pun dikatakan dinamis. Karena bergerak atau tidak ada kegiatannya pun dikatakan dinamis. Karena bergerak atau tidak bergerak itu adalah ritme. Ritme itu sendiri berarti kedinamisan. Atau bahasa sederhananya ialah kedinamisan dapat diartikan sebagai gerak dan diartikan sebagai diam, (Sudjarwo; 2011:15).

(Gerungan;1991:110) Menyatakan dinamika kelompok adalah Merupakan analisis hubungan-hubungan kelompok sosial yang berdasarkan prinsip-prinsip tingkah laku dalam kelompok itu adalah hasil dari interaksi yang dinamis antara individu dalam situasi sosial, dan Interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua individu atau lebih, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya (Santosa, 1999: 15). Pertumbuhan dan perkembangan dinamika kelompok  tidak lepas dari pandangan para ahli dari cabang sosiologi ahli sosiologi seperti Homans, Moreno, dan Mitschell berpendapat bahwa masalah kelompok/group dan struktur kelompok yang menjadi  obyek dinamika kelompok merupakan sebagian bahan yang menjadi obyek sosiologi. Moreno berpendapat bahwa dalam suatu kelompok pasti terdapat social distance (jarak social) antara angota kelompok tersebut. Dinamika kelompok  merupakan suatu kelompok yang terdiri dari dua atau lebih individu yang memiliki hubungan psikologi secara jelas antara anggota satu dengan yang lain yang dapat berlangsung dalam situasi yang dialami secara bersama.  Dinamika kelompok juga dapat didefinisikan sebagai konsep yang menggambarkan proses kelompok yang selalu bergerak, berkembang dan dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang selalu berubah-ubah.
Dari hari pertama dilahirkan, kita sudah merupakan bagian dari kelompok yang dikenal sebagai keluarga; kita tidak mungkin dapat bertahan hidup pada menit-menit pertama, minggu-minggu pertama, pada tahun-tahun pertama setelah kelahiran tanpa bantuan dari kelompok (keluarga). Dan melalui keluarga ini pula kita mulai belajar bagaimana harus bersosialisasi, yang mana nantinya merupakan dasar dari pola tingkah laku dan pola berpikir serta mendidik kita agar mempunyai perspektif tertentu terhadap diri sendiri dan dunia luar/lingkungan. Selanjutnya, hari demi hari kita lalui bersama kelompok, dari satu kelompok ke kelompok yang lain, baik formal maupun informal, dalam kelompok-kelompok ini interaksi kita dengan orang lain dalam kelompok tidak dapat terhindarkan. Dari berbagai studi tentang perilaku dan kepribadian menunjukkan bahwa bentuk perlakuan yang diterima seseorang dalam kelompoknya mempunyai kontribusi yang cukup besar dalam menentukan identitas kepribadian seseorang.

Dari keterangan diatas diketahui bahwa kehidupan dalam kelompok sangatlah dinamis. Semakin efektif suatu kelompok, semakin baik pula kualitas kehidupan anggota-anggotanya. Yang penting diperhatikan agar kelompok tersebut tetap efektif adalah pengetahuan yang cukup tentang dinamika atau proses-proses yang terjadi serta kemampuan untuk berperilaku secara efektif dalam kelompok. Kedua hal penting ini dapat kita pelajari melalui pemahaman tentang dinamika kelompok.

Dinamika kelompok sebenarnya adalah bagian dari ilmu pengetahuan sosial dan bagian terpenting bagi Pendidikan, yang lebih menekankan perhatiannya pada interaksi manusia dalam kelompok yang kecil. Pada berbagai referensi, istilah dinamika kelompok ini disebut juga dengan proses-proses kelompok (group processes). Jelas dari terminologi ini bahwa pengertian dari dinamika kelompok ataupun proses kelompok ini menggambarkan semua hal atau proses yang terjadi dalam kelompok akibat adanya interaksi individu-individu yang ada dalam kelompok itu.

Secara definitif, kelompok adalah dua orang atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama, saling berinteraksi, saling adanya ketergantungan dalam mencapai tujuan bersama, adanya rasa kebersamaan dan memiliki, mempunyai norma-norma dan nilai-nilai tertentu. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa sejak dari awal kehidupannya, manusia telah membentuk kelompok yang kemudian menjadi dasar bagi kehidupan keluarga, perlindungan, belajar, kerja dan lain-lain.

Pendekatan (Sigmund Freud dan Scheidlinger) Scheidlinger berpendapat bahwa aspek-aspek motif dan emosional memegang peranan penting dalam kehidupan kelompok. Kelompok akan terbentuk apabila didasarkan pada kesamaan motif antar anggota kelompok, demikian pula emosional yang sama akan menjadi tenaga pemersatu dalam kelompok, sehingga kelompok tersebut semakin kokoh. Freud berpendapat bahwa di dalam setiap kelompok perlu adanya kesatuan kelompok, agar kelompok tersebut dapat berkembang dan bertahan lama. Kesatua kelompok akan terbentuk apabila tiap-tiap anggota kelompok melaksanakan identifikasi bersama antara anggota yang satu dengan yang lain.

Keberadaan kelompok dalam kehidupan pelajar bertujuan untuk meningkatan kesadaran belajar yang efektif di sekolah juga kebersamaan dalam senasib, sepenanggungan merupakan tujuan mereka ditinjau dari peran dan fungsinya dapat dipandang sebagai fenomena kelompok yang unik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif, karena selain kepuasan, informasi, penyebarluasan, koordinasi, klarifikasi, komunikasi yang baik, juga semangat dari para anggota dalam mencapai tujuan peningkatan belajar juga prestasi di sekolah.

Fenomena ini ditandai oleh pengembalian peran kelompok pelajar dalam meningkatkan kesadaran belajar di sekolah, khususnya dalam pembelajaran efektif menjadi sangat penting untuk di perhatikan. Pada dasarnya salah satu unsur yang mendorong seseorang untuk masuk kedalam kelompok ialah karena dorongan untuk memecahkan masalah yang ada dalam dirinya Sudjarwo (2011:53).

Abad globalisasi telah menyajikan nilai-nilai baru, pengertian-pengertian baru serta perubahan-perubahan di seluruh ruang lingkup kehidupan manusia yang waktu kedatangannya tidak bisa diduga-duga. Sehingga dunia pendidikan merasa perlu untuk membekali diri dengan perangkat pembelajaran yang dapat memproduk manusia zaman sesuai dengan atmosfir tuntutan global. Penguasaan teknologi informasi, penyediaan SDM yang profesional, terampil dan berdaya guna bagi masyarakat, kemahiran menerapkan penggunaan Iptek, perwujudan tatanan sosial masyarakat yang terbuka, demokratis, humanis serta progresif dalam menghadapi kemajuan zaman merupakan beberapa bekal mutlak yang harus dimiliki oleh semua bangsa di dunia ini yang ingin tetap bertahan menghadapi tata masyarakat baru berwujud globalisasi. Seiring dengan berkembangnya teknologi dan peradaban manusia maka berdampak pada pembangunan yang semakin pesat dan percepatan diberbagai bidang kehidupan manusia. Pembangunan tersebut dapat berupa pembangunan di bidang fisik dan pembangunan di bidang sumber daya manusia atau ilmu pengetahuan.  Dengan SDM yang mendukung maka siswa akan berpikir lebih cerdas dan melakukan inovasi baru untuk berprestasi. Permasalahan Pendidikan juga merupakan salah satu aspek dari indikasi kemajuan suatu bangsa. Dimana salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa ialah ketika permasalahan Pendidikan dapat  teratasi terutama masalah efektifitas belajar. Pendidikan dewasa ini masalah kelompok saat ini tampaknya cukup menarik perhatian.

Banyak kelompok pelajar SMA belajar secara berkelompok dan belajar secara berkelompok ternyata banyak manfaatnya. Masing-masing pelajar dapat menerima dan memberi pengetahuan yang dimilikinya, sehingga pengetahuan akan bertambah. Namun, saat ini ada pula kejadian-kejadian yang dilakukan secara berkelompok dan mengakibatkan hal-hal yang merugikan. Sangat disayangkan karena pada prinsipnya pendidikan merupakan tolak ukur kemajuan suatu bangsa, keinginan dan motivasi untuk ikut serta dalam program pendidikan di luar Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) adalah salah satu cara untuk menjadikan pembelajaran di sekolah menjadi efektif, Proses berkelompok mulai dari individu sebagai pribadi yang masuk ke dalam kelompok dengan latar belakang yang berbeda-beda, belum mengenal antar individu yang ada dalam kelompok. Individu yang bersangkutan akan berusaha untuk mengenal individu yang lain setelah saling mengenal, dimulailah berbagai diskusi kelompok, yang kadang diskusi bisa sampai memanas akan membawa perubahan pada sikap dan perilaku individu. Dalam setiap kelompok harus ada aturan main yang disepakati bersama oleh semua anggota kelompok dan pengatur perilaku semua anggota kelompok, proses. Berdasarkan aturan inilah individu dan kelompok melakukan berbagai kegiatan.

Dinamika Kelompok dalam peningkatan minat belajar kelompok di lingkup siswa SMA merupakan bagian penting dengan ketergantungan positif adalah suatu keadaan dimana setiap orang dalam kelompok saling membutuhkan dan merasa bahwa berhasil atau tidaknya suatu yang dicapai merupakan hasil bersama dan tanggung jawab bersama. Ketergantungan positif dapat dilihat dari persepsi positif terhadap setiap anggota kelompok. Selain itu semua anggota selalu berusaha agar keuntungan atau keberhasilan yang diperoleh dapat dinikmati oleh seluruh anggota kelompok.

Belajar kelompok dapat menjadi kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan karena ditemani oleh teman dan berada diluar jam belajar sekolah atau dirumah sendiri sehingga dapat lebih santai. Belajar kelompok ada baiknya mengajak teman yang pandai dan rajin belajar agar yang tidak pandai jadi termotivasi untuk menjadi tekun dan pintar. Dalam belajar kelompok kegiatannya adalah membahas pelajaran yang belum dipahami oleh semua atau mengulang dan mempelajari yang sudah dijelaskan guru maupun belum dijelaskan guru. Membuat perencanaan yang baik untuk mencapai suatu tujuan biasanya diiringi oleh rencana yang baik. Oleh karena itu ada baiknya kelompok membuat rencana belajar dan rencana pencapaian nilai untuk mengetahui apakah kegiatan belajar yang di lakukan telah maksimal atau perlu ditingkatkan. Sesuaikan target pencapaian dengan kemampuan yang di miliki kelompok. membuat rencana belajar yang diprioritaskan pada mata pelajaran yang lemah.  Kelompok yang mempunyai ketergantungan positif yang tinggi akan mempunyai keterikatan atau kohesi antar anggota yang tinggi pula sehingga memungkinkan seluruh anggota kelompok akan mencapai tujuan untuk meningkatkan efektifitas belajar tim.